
Indonesia sebagai negara yang menduduki peringkat kedelapan sebagai penghasil emisi karbon terbesar di dunia, menghadapi risiko iklim yang signifikan.. Terlepas dari tantangan-tantangan ini, sumber daya yang melimpah menempatkan Indonesia sebagai pemeran penting dalam transisi menuju solusi yang berkelanjutan dan bebas karbon. New Energy Nexus (NEX) Indonesia berada di garis depan dalam mendukung para pengusaha energi bersih termasuk di dalamnya solusi inovasi iklim. Melalui Inisiatif Dilau, yang bertujuan untuk mendekarbonisasi sektor kelautan dan perikanan di Indonesia, dengan fokus khusus pada masyarakat pesisir. Inisiatif ini mencakup penjangkauan masyarakat, peningkatan kapasitas, pengenalan pada inovasi yang dapat diukur dampaknya, dan pelestarian ekosistem laut, di berbagai kegiatan lainnya.
Desa Bungin, yang terletak di Kecamatan Alas, Kabupaten Sumbawa, awalnya dihuni oleh Suku Bajo. Penduduk di desa tersebut dikenal dengan keahlian menyelam dan menangkap ikan tanpa bantuan alat apapun, serta diakui sebagai salah satu kelompok pengembara laut terbesar yang masih ada di dunia. Suku Bajo telah mempertahankan cara hidup mereka yang berbeda dengan membangun pulau kecil dari batu karang, sehingga budaya mereka dapat berkembang terpisah dari daratan. Desa ini memiliki kepadatan penduduk yang tinggi, mencapai 2.338 orang per kilometer persegi, dan mayoritas warganya bekerja sebagai nelayan. Di desa ini terdapat antara 1.020 hingga 1.113 nelayan aktif, 9 pengepul ikan yang masih beroperasi, serta 12 kelompok budidaya ikan yang disebut Keramba Jaring Apung (KJA), meskipun hanya 4 kelompok yang masih aktif.

Picture 1: Aerial View of Bungin Village
Photographed by Yudha Baskoro

Picture 2: A Fisherman Passing His Catch to His Wife for Sale at the Market
Photographed by Yudha Baskoro
Apa masalahnya?
Transisi menuju praktik-praktik berkelanjutan di Indonesia adalah masalah yang kompleks. Bagi banyak orang Indonesia, prioritas utama mereka adalah menyediakan makanan di atas meja, sehingga sulit untuk memprioritaskan praktik-praktik berkelanjutan.
Di Desa Bungin, sektor perikanan menghadapi beberapa tantangan, diantaranya masalah penyimpanan hasil tangkapan, biaya listrik dan bahan bakar yang tinggi, serta ketergantungan pada bahan bakar konvensional untuk kapal mereka.. Nelayan sering menangkap lebih banyak ikan daripada yang dapat mereka jual, sehingga mengakibatkan pemborosan dan kesulitan finansial akibat terbatasnya fasilitas penyimpanan hasil tangkapan serta tingginya biaya es dan listrik. Masalah sampah juga menjadi persoalan serius di Pulau Bungin. Penggunakan styrofoam, plastik dan balok es untuk penyimpanan hasil tangkapan menimbulkan banyak sampah yang berakhir di laut. Dengan adanya fasilitas pendingin yang memadai, pengurangan limbah dapat diantisipasi dengan lebih efektif. Selain itu, para nelayan yang bekerja selama 5-6 hari dalam seminggu, masih bergantung pada bahan bakar konvensional yang mahal dan berdampak buruk terhadap lingkungan untuk operasional kapal mereka.

Picture 3: Nova, CEO of Olat Maras Power, Inspecting the Existing Solar-Powered Charging Station Photographed by Yudha Baskoro
Sektor perikanan memiliki peluang besar untuk membawa perubahan positif, terutama karena semakin banyak orang yang berupaya menekan biaya operasional. Selain itu, dengan sinar matahari yang melimpah di wilayah ini, menjadi peluang besar untuk menghadirkan solusi berkelanjutan. Meski demikian, transisi ini tidak mudah karena adanya kesenjangan pengetahuan dan keraguan di kalangan masyarakat. Hal ini dapat dimaklumi karena kurangnya kesadaran, biaya yang tinggi di awal, dan kekhawatiran tentang apakah teknologi baru akan benar-benar berhasil. Dengan demikian, perencanaan matang dan dukungan yang kuat diperlukan untuk mengatasi tantangan tersebut. Salah satu caranya adalah mengadopsi teknologi ramah lingkungan karena dapat menurunkan biaya, sekaligus memastikan ketersediaan pangan yang mencukupi bagi semua pihak.
“Potensi tenaga surya di Sumbawa sangat bagus, jadi sayang sekali jika tidak dimanfaatkan. Kami ingin memperkenalkan praktik-praktik ramah lingkungan kepada para nelayan di Pulau Bungin, serta memberikan solusi bagi permasalahan mereka” – Ahmad Jaya (Kepala Teknologi Olat Maras Power)
Studi Kelayakan
Untuk memulai inisiatif ini, pertama-tama kami harus benar-benar memahami situasi saat ini dan orang-orang yang tinggal di sana.
Studi kelayakan yang dilakukan oleh NEX Indonesia dan Manussa Consulting berfokus pada memperkenalkan cold storage atau peti pendingin bertenaga surya dan perahu dengan mesin motor tempel listrik untuk mendukung industri perikanan di Desa Bungin. Tujuan utama dari inisiatif ini adalah mengurangi emisi karbon dan meningkatkan efisiensi ekonomi melalui penerapan teknologi berkelanjutan. New Energy Nexus Indonesia melakukan survei terhadap 54 orang, termasuk 45 nelayan dan 9 pengepul ikan desa, serta mengadakan wawancara dengan 22 perwakilan dari berbagai kalangan, seperti perusahaan rintisan, pengepul ikan, pembudidaya laut, nelayan, pemilik restoran, pemerintah daerah, BUMDes, dan lembaga perbankan. Hasil studi ini menunjukkan bahwa lokakarya dan insentif keuangan sangat diperlukan untuk mendorong masyarakat beralih ke teknologi baru ini. Berdasarkan analisis keuangan juga mengindikasikan bahwa proyek ini layak dilakukan, namun membutuhkan perencanaan keuangan yang matang serta rencana cadangan untuk memastikan keberhasilannya.
Studi ini menyoroti beberapa tantangan utama, termasuk biaya yang tinggi dan fakta bahwa banyak orang yang tidak terbiasa dengan teknologi baru ini. Kami bertanya kepada penduduk setempat tentang pengetahuan dan pemahaman mereka tentang teknologi ini, manfaatnya, dan isu perubahan iklim secara umum, dan kami menemukan bahwa masih kurangnya pemahaman mengenai hal tersebut, seperti yang ditunjukkan pada grafik di bawah ini.

Berdasarkan hasil survei ini, NEX Indonesia ingin mengukur sejauh mana minat masyarakat dalam mengadopsi dan membeli teknologi tersebut. Hasilnya menunjukkan bahwa minat mereka terbagi hampir merata antara kelompok yang tertarik, tidak tertarik, dan yang netral. Namun, ketika ditanya mengenai niat untuk melakukan pembelian, lebih banyak responden yang cenderung ragu atau menghindar. Hal ini dapat dimaklumi, mengingat tingkat kesadaran terhadap mesin motor tempel listrik yang digunakan di kapal masih rendah di kalangan masyarakat.

Berbeda dengan respons terhadap mesin motor tempel listrik, tanggapan mengenai peti pendingin bertenaga surya menunjukkan bahwa masyarakat memiliki pemahaman yang lebih baik tentang teknologi ini, karena unit tersebut sudah tersedia di desa. Hal ini menyebabkan minat yang lebih besar untuk mengadopsi dan membeli, meskipun tingkat ketidaktertarikan masih cukup tinggi. Situasi ini menekankan pentingnya kesadaran dan pengetahuan sejak awal.

Ketika kami bertanya mengapa orang-orang tidak tertarik, sebagian besar mengatakan bahwa unit ini bukan prioritas bagi mereka dan mereka khawatir dengan biaya awal yang tinggi. Yang lainnya mengkhawatirkan kapasitas dan daya tahannya.
Menawarkan solusi seperti dukungan finansial dan program yang bisa memperkenalkan solusi ramah lingkungan dapat membantu mengatasi permasalahan ini. Dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan dan mempromosikan keberlanjutan, proyek ini diharapkan dapat menjadi contoh perubahan positif bagi masyarakat pesisir lainnya.
Peti Pendingin / Cold Storage Bertenaga Surya oleh Olat Maras
Studi kami menunjukan bahwa banyak pengepul ikan di desa dalam kategori kapasitas yang lebih besar bergantung pada beberapa unit pendingin yang ditenagai oleh listrik PLN, yang menyebabkan biaya listrik bulanan yang signifikan. Meskipun pengepul ikan dapat menyimpan hasil tangkapan mereka selama 2 hingga 4 hari, mereka sering kali lebih memilih untuk segera menjualnya. Beberapa nelayan juga menggunakan peti pendingin ketika mereka terlambat kembali dari melaut, dengan mengandalkan kesepakatan dengan pengepul di desa. Untuk menjaga kualitas hasil tangkapan, pengepul menggunakan kotak styrofoam dan balok es, yang menimbulkan biaya harian yang cukup besar.
Menyadari potensi sumber energi matahari di pulau in, Olat Maras Power menawarkan solusi peti pendingin bertenaga surya untuk membantu mengurangi biaya listrik. Teknologi baru ini mengatasi kerugian ekonomi yang timbul akibat pembusukan ikan. Sebelumnya, kualitas ikan yang disimpan menurun hingga rata-rata 220 kg per bulan, dan mencapai 1,2 ton selama musim puncak penangkapan ikan. Dengan adanya peti pendingin, nelayan dapat menyimpan ikan lebih lama, mengurangi pemborosan akibat penggunaan listrik, dan meningkatkan nilai jual produk mereka. Dengan mengurangi angka pembusukan, dengan asumsi tingkat pembusukan sekitar 25%, setiap pengepul ikan dapat menghindari kerugian ekonomi sekitar Rp2.388.750 (~US$147) per bulan.
“Sebelum ada peti pendingin, saya selalu mencari es balok. Jika saya tidak bisa menemukannya, saya harus membiarkan ikan membusuk” – Ibu Jusmia (penjual ikan lokal dari Pulau Bungin, pengguna dan penerima manfaat teknologi)

Picture 4: Fish Catches Stored in Styrofoam Boxes Ready for Sale at the Market Photographed by Manussa Consulting

Photo 5: Conversations with Local Fisherfolks for Feasibility Study Photographed by Manussa Consulting
Mesin Motor Tempel Listrik oleh Maritek
Terlepas dari dampak lingkungan dan biaya tinggi yang terkait dengan bahan bakar konvensional, banyak nelayan yang masih belum mengetahui alternatif lain seperti mesin motor tempel listrik. Penelitian NEX Indonesia menunjukkan bahwa sebagian besar nelayan tidak mengetahui tentang kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh bahan bakar fosil. Faktanya, 51% tidak menyadari bahwa bahan bakar fosil adalah sumber daya yang terbatas, dan 69% tidak memahami hubungan antara bahan bakar fosil, emisi karbon, dan polusi, yang berkontribusi terhadap perubahan iklim. Selain itu, sekitar 90% nelayan tidak mengetahui adanya alternatif lain seperti mesin motor tempel listrik.
Beralih ke motor tempel listrik dapat menghasilkan penghematan biaya yang signifikan bagi nelayan, dengan setiap orang dapat menghemat sekitar Rp 2.012.500 (~ USD 124) per bulan untuk bahan bakar konvensional. Penggunakan peti pendingin bertenaga surya dapat mengurangi biaya lebih lanjut, menghemat Rp 2.265.000 (~ USD 140) untuk balok es dan Rp 83.326 (~ USD 5) untuk listrik per unit penyimpanan 300L. Penghematan ini dapat meningkatkan keuntungan mereka secara signifikan per siklus pengiriman, yang berpotensi menggandakan pendapatan mereka
Pendekatan kami
Meskipun ada minat yang menjanjikan terhadap peti pendingin bertenaga surya dan mesin motor tempel listrik dari para pengepul ikan, pembudidaya ikan laut, dan pemilik restoran. NEX Indonesia menghadapi tantangan seperti biaya produksi awal yang tinggi dan kekhawatiran akan daya tahan.
Untuk mengatasi masalah ini, kami akan menyelenggarakan lokakarya untuk mengedukasi para pengepul ikan skala kecil dan menengah, pembudidaya ikan, pemilik restoran, dan pemangku kepentingan terkait lainnya. Lokakarya ini akan berfokus pada potensi penghematan biaya dan manfaat lingkungan dari teknologi ini. Kami juga akan membagikan studi kasus, serta testimoni dari para pengguna peti pendingin dan mesin motor tempel listrik saat ini di masyarakat, untuk mendorong penerimaan dan adopsi yang lebih luas.
Berdasarkan hasil studi, kami mengidentifikasi kelompok-kelompok Pokdakan (Kelompok Budidaya Ikan), terutama nelayan perahu Lelepa, sebagai kandidat utama untuk proyek ini. Peti pendingin dan Mesin motor tempel listrik ini sangat sesuai dengan kebutuhan mereka, dan dapat menjadi langkah awal pengenalan dan adopsi dari teknologi ini. Kami akan menjalankan proyek percontohan untuk memberikan pengalaman langsung kepada para nelayan dengan teknologi ini. Dengan mengumpulkan dan menganalisis umpan balik dari mereka, selanjutnya kami dapat menyempurnakan teknologi ini dan mengatasi masalah operasional apa pun, memastikan teknologi ini memenuhi kebutuhan lokal dan membangun kepercayaan di antara para calon pengguna.
Seperti apa keberhasilan bagi kami
Agar teknologi ini benar-benar terimplementasi di desa, kami harus tetap terhubung dengan orang-orang yang terlibat seperti pengepul ikan, pembudidaya ikan, dan pejabat desa, yang akan membantu untuk mendukung keberadaan teknologi ini di dalam masyarakat.
Pendekatan NEX Indonesia meliputi lokakarya pengembangan kapasitas dan pengetahuan, demonstrasi percontohan, dan mekanisme umpan balik ], dengan rencana untuk memperluas uji coba percontohan untuk melibatkan lebih banyak masyarakat nelayan.
NEX Indonesia berharap setelah uji coba percontohan ini, ada keberlanjutan dan pertumbuhan dengan dukungan dari berbagai pihak. Tujuannya adalah untuk mengembangkan basis pengetahuan yang komprehensif tentang dekarbonisasi pesisir, mendapatkan antusiasme dari masyarakat dan menumbuhkan rasa memiliki terhadap inisiatif.NEX Indonesia juga berdedikasi untuk melibatkan kaum muda dari wilayah Sumbawa Besar dalam proyek-proyek inovatif, menginspirasi mereka untuk mengatasi tantangan lokal dan secara aktif berkontribusi pada keberhasilan inisiatif ini. Di masa depan, pembangunan model bisnis yang fleksibel menjadi fokus selanjutnya untuk adopsi teknologi yang dikelola oleh badan usaha milik masyarakat, dengan penekanan kuat pada transparansi untuk menavigasi tantangan sosial dan politik secara efektif.
Inisiatif Dilau didukung oleh Milkywire Foundation dan diimplementasikan dengan bantuan dari mitra kami di Manussa Consulting.