Indonesia
Teknologi energi terbarukan
Perempuan
GAWIREA: Baterai Pasir untuk Perempuan Papua dan Pengolahan Sagu Berkelanjutan

GAWIREA: Baterai Pasir untuk Perempuan Papua dan Pengolahan Sagu Berkelanjutan

Kisah Mosa membuka mata kita pada ketidaksetaraan struktural yang membatasi masa depan perempuan Papua

Mosa adalah siswi terpintar di sekolahnya, tetapi ia berhenti datang. Saat ditanya, ibunya hanya menjawab bahwa mereka punya satu pasang sepatu, dan itu diberikan kepada anak laki-laki. “Keputusan itu bukan salah ibunya,” kata Andi Rosita Dewi, Founder & CEO GAWIREA (Girls and Women in Renewable Energy Academy) di final pitch Demo Day [RE]Spark: Clean Energy & Climate Startup Festival 2025 pada 15 November 2025 di Jakarta. “Itu keputusan yang lahir dari kemiskinan struktural yang mempengaruhi keputusan gender,” lanjut Rosita. Kisah sederhana itu menjadi simbol dari masalah besar yang selama ini tersembunyi di kampung-kampung Papua.

Bagi Rosita, Mosa bukan sekadar seorang anak perempuan yang kehilangan akses pendidikan. Ia adalah potret nyata bagaimana kemiskinan, ketimpangan gender, dan minimnya akses energi saling berkait, menutup pintu masa depan perempuan Papua. Dari kegelisahan tersebut lahirlah Wani Yiniyo Sago house, sebuah tempat yang tidak hanya mengolah sagu, tetapi mengolah harapan bagi perempuan Papua

“Saya sadar, solusi untuk Mosa bukan memberi sepatu,” tutur Rosita. Menurutnya, da tiga akar masalah yang membuat dia tidak datang ke sekolah: Ketidakberdayaan perempuan Papua terhadap lahan dan pangan mereka, tidak adanya yang memberitahu mereka bahwa sagu bisa diproses dengan mesin, dan harga minyak dan negara yang tidak berpihak kepada masyarakat yang ada di papua. Ketiga faktor ini menciptakan lingkaran ketidakberdayaan yang hanya bisa dihentikan dengan perubahan sistemik.

 

Konsep Wani Yiniyo tumbuh dari kekuatan perempuan Papua sendiri

Dalam bahasa Awyu, Wani Yiniyo berarti “perempuan yang berapi.” Nama ini lahir dari perempuan-perempuan tangguh yang Rosita temuidi Selatan Papua; perempuan yang setiap hari menghabiskan berjam-jam di bawah matahari, mengolah sagu dengan tangan mereka sendiri, Rosita menemukan sumber kekuatan yang berbeda.

Mengutip apa yang Rosita sampaikan dalam final pitch, “kita tidak bisa membicarakan Papua tanpa melibatkan orang Papua”, peran kepemimpinan Wani Yiniyo dipegang langsung oleh perempuan lokal salah satunya Fermensia Magdalena Aga, yang merupakan project leader rumah pengolahan sagu tersebut.

Pada tahap awal pengimplementasian, Wani Yiniyo masih masih mengolah sagu dengan bergantung pada baterai lithium. Hal tersebut bertolak belakang dengan nilai adat pengolahan sagu lokal yang memiliki prinsip zero emission. Tantangan ini mendorong GAWIREA untuk melakukan riset bertahun-tahun hingga menemukan solusi yang selaras dengan ekologi dan budaya lokal yaitu baterai pasir (sand battery), sebuah baterai berbahan pasir lebih tahan lama, aman, dan selaras dengan nilai-nilai komunitas adat.

Olahan Sagu Wani Yiniyo

Melalui Wani Yiniyo Sago House, GAWIREA mematenkan penggunaan teknologi ini dalam pengolahan sagu. Namun inovasi mereka bukan hanya pada teknologinya. Sejak awal, GAWIREA membangun model kepemilikan yang memastikan perempuan Papua bukan sekedar penerima manfaat, tetapi pemilik sepenuhnya.Dalam koperasi beranggotakan 25 perempuan, setiap orang adalah co-owner yang memegang 100 persen kepemilikan aset.

Saat ini, kapasitas produksi mencapai 100 kilogram sagu per minggu. Dengan baterai pasir, kapasitas itu diprediksi melonjak menjadi 500 kilogram. Surplus produksi 400 kilogram dapat dijual ke kampung sekitar dan menjadi pendapatan langsung perempuan Papua penggerak Wani Yiniyo. Setiap anggota koperasi juga menerima satu kilogram sagu per minggu secara cuma-cuma dan voucher subsidi hingga 75 persen, bukan sebagai bantuan, tetapi sebagai hasil kepemilikan bersama.

 

Olahan Sagu Wani Yiniyo

Melalui Program Kewirausahaan KINETIK NEX yang diselenggarakan oleh New Energy Nexus dengan dukungan KINETIK—Kemitraan Australia-Indonesia untuk Iklim, Energi Terbarukan, dan Infrastruktur, GAWIREA mengasah skema bisnis dan inovasi teknologi berkelanjutan untuk Wani Yiniyo. Komitmen mereka pada kepemimpinan perempuan, kearifan lokal, dan riset teknologi autentiknya meyakinkan para juri bahwa GAWIREA layak menerima hibah hingga Rp1,6 miliar.

Rosita dan Feremensia dari GAWIREA menerima hibah KINETIK NEX yang diwakilkan oleh Natalie Mandelsohn dari Counsellor, Infrastructure and Climate Change,Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT)

Dengan pendanaan tersebut, GAWIREA berkomitmen mengembangkan teknologi baterai pasir sebagai inovasi energi terbarukan pertama di Indonesia yang benar-benar lahir dari kebutuhan masyarakat Papua. Mereka Berencana memperdalam riset dan menyempurnakan desain baterai, agar dapat alternatif pengganti sistem berbasis lithium, yang dinilai kurang  dengan prinsip nol emisi dalam pengolahan sagu. Inovasi ini diproyeksikan mampu menekan emisi setara dengan  penggunaan hingga 300 liter bensin atau solar.

Koperasi Wani Yiniyo telah memberikan pendapatan rutin Rp1.000.000 per bulan bagi perempuan yang sebelumnya tidak memiliki pendapatan tetap. Perubahan ini menciptakan efek berantai: tanggungan keluarga lebih aman, dan anak-anak seperti Mosa dapat melanjutkan pendidikan mereka.

Dengan teknologi baterai pasir, d perempuan Papua tidak hanya mengolah sagu, mereka mengolah masa depan mereka sendiri . “Bagi teman teman yang ingin punya kewirausahaan iklim, jangan menyerah dan tetap semangat sehingga bisa meraih apa yang diinginkan” pesan Magdalena

Selamat kepada GAWIREA atas keberhasilan Wani Yiniyo Sago House meraih dukungan dana hibah Program Kewirausahaan KINETIK NEX. Pencapaian ini bukan sekadar pengakuan terhadap sebuah teknologi, tetapi titik terang bagi masa depan perempuan Papua, sistem pangan lokal, dan energi bersih yang lebih adil bagi semua.

Ikuti perjalanan GAWIREA dalam menghadirkan inovasi terbarukan dari tanah Papua melalui situs resmi www.GAWIREA.com atau Instagram @GAWIREA.

Penulis: Shilfina Putri Widatama

Foto oleh: Impresif

 

 

Explore More