Cerita
Indonesia
Kaum Muda
Perempuan
Makassar Bergerak: Mengolah Limbah Jadi Berkah

Tradisi Mappadendang | Foto: Mandarnesia.com

“Mappadendang makkacaping makkelong-kelong. Mappadendang makkacaping, rekko purani mengngala.”

(Berdendang, bermain kecapi, bernyanyi-nyanyi. Berdendang, bermain kecapi, jikalau sudah memanen.)

Lirik di atas adalah detak jantung Mappadendang, pesta pascapanen suku Bugis yang merayakan syukur melalui dentuman alu pada lesung. Ritual ini menyatukan hasil tanah dengan keberlangsungan hidup manusia sebagai bentuk penyucian diri. Semangat menghargai keterhubungan alam dan manusia inilah yang menjadi pondasi penting dalam menjawab tantangan krisis iklim modern di Sulawesi Selatan.

Yohanes Benediktus, Yayasan Lontara Hijau | Foto: Yoga Pratama

Keharmonisan tersebut kini menemukan bentuk baru dalam metodologi Yohanes Benediktus dari Yayasan Lontara Hijau. Yohanes menekankan bahwa solusi iklim yang tangguh harus berangkat dari proses mendengar, mengetahui, dan memahami realitas lokal secara mendalam. Di Maros, pendekatan ini tidak hanya menjaga ekosistem hutan bakau, tetapi juga memastikan aksi lingkungan mampu memberikan dampak ekonomi langsung bagi warga sekitar.

Yayang Malil, Berdaur | Foto: Yoga Pratama

Kesadaran akan dampak ekonomi ini diterjemahkan secara kreatif oleh Yayang Malil melalui Berdaur, inisiatif yang mengubah wajah pengelolaan sampah plastik di Makassar. Melalui studio produksi yang terbuka untuk publik, Berdaur membangun kebiasaan baru dengan menghadirkan pengalaman daur ulang yang menyenangkan dan bernilai tambah. Yayang berharap setiap pengunjung dapat bertransformasi menjadi duta lingkungan yang menyebarkan perubahan dari hal-hal terdekat dalam keseharian mereka.

Perubahan perspektif ini telah menginspirasi lahirnya pengusaha hijau seperti Musawwir, alumni lokakarya 2025 yang kini memimpin Rebru. Musawwir merumuskan bisnis sirkular yang menyulap 2,2 ton ampas kopi harian di Makassar menjadi produk bernilai seperti lilin aromaterapi dan sabun natural. Apa yang dimulai sebagai ide mentah di ruang lokakarya kini telah berkembang menjadi bisnis yang bertanggung jawab terhadap apa yang diproduksi dan dikonsumsi.

Musawwir Muhtar, Rebru.id | Foto: Yoga Pratama

Keberhasilan Rebru menjadi pemantik optimisme bagi KINETIK NEX untuk kembali ke Makassar guna menjaring gagasan segar dari para peserta lokakarya terbaru. Dari diskusi intensif, muncul delapan ide inovatif yang siap menjawab tantangan lingkungan Sulawesi Selatan dengan pendekatan unik:

  • Kelompok 1: Mengolah surplus eceng gondok menjadi produk bernilai guna bernama “Ecogoundok”, seperti vas bunga dan hiasan rumah tangga.
  • Kelompok 2 (BARANI): Budidaya maggot untuk mengubah sampah organik menjadi kompos berkualitas bagi kebutuhan CSR perusahaan.
  • Kelompok 3: Implementasi sistem biogas dan bioslurry untuk memitigasi bau tak sedap di area pembuangan sementara di pemukiman warga.
  • Kelompok 4 (jemputsampah.id): Layanan jemput sampah terpilah berbasis reward yang hasilnya dipasarkan sebagai hadiah korporat.
  • Kelompok 5: Menyiasati limbah kelapa muda menjadi bahan bangunan seperti paving block, vynil, plafon, hingga atap.
  • Kelompok 6: Mengonversi limbah minyak jelantah menjadi sumber energi terbarukan (wasteful energy).
  • Kelompok 7: Pemberdayaan ibu-ibu Dasawisma untuk memproduksi eco-enzyme dari limbah dapur rumah tangga.
  • Kelompok 8: Mengolah sampah plastik di Kelurahan Mamajang menjadi kerajinan pot bunga yang estetik.

Rangkaian ide ini mempertegas bahwa inovasi iklim paling efektif adalah yang berangkat dari kesadaran penuh akan dampak yang dirasakan langsung oleh masyarakat. KINETIK NEX berkomitmen untuk terus mengawal gagasan-gagasan ini agar tidak hanya berhenti di atas kertas, tetapi menjadi aksi nyata yang berdampak luas. Hal ini sejalan dengan keyakinan bahwa kekuatan adaptasi sebenarnya sudah ada di dalam diri masyarakat itu sendiri.

“Orang-orang di kampung sebenarnya jauh lebih hebat dibanding kita yang mungkin data-data soal iklim itu grafis dan teoritis, tapi orang-orang di kampung itu, mereka bisa beradaptasi,” ungkap Yohanes Benediktus menutup sesi.

Mari kita jaga alam ini, agar alam senantiasa menjaga kita kembali.

Salam lestari untuk bumi kita. 🌿

Penulis: YN Labas

Foto oleh: Yoga Pratama, TAMXTURATION

Explore More