Indonesia
Perempuan
Meliput inovasi energi bersih dari lensa yang berbeda: KINETIK NEX Journalist Training 2025

“Clean energy isn’t just technology. It’s people’s lives changing.”

Kalimat ini membuka KINETIK NEX Journalist Training 2025 yang berlangsung pada 6 November 2025 di Artotel Senayan, Jakarta. Sebanyak 14 jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia mengikuti pelatihan ini untuk memperdalam liputan energi bersih yang lebih kontekstual, manusiawi, dan inklusif.

Harriet Horsfall, First Secretary (Climate Finance) DFAT

Para peserta dipilih dari lebih dari 100 pendaftar, mewakili media nasional serta daerah dari Sulawesi, Maluku, Kalimantan, dan Sumatra. Pelatihan dibuka oleh Harriet Horsfall, First Secretary (Climate Finance) DFAT, yang menegaskan pentingnya peran media dalam menjembatani isu transisi energi dengan realitas yang dihadapi masyarakat.

Energi bersih dimulai dari pengalaman sehari-hari

Marilyn Parhusip – Founder/CEO Leastric: The role of startups in clean energy innovation

Sesi awal pelatihan menantang cara pandang jurnalis terhadap inovasi energi bersih. Alih-alih berangkat dari teknologi, peserta diajak menelusuri persoalan sederhana yang sering dialami masyarakat, seperti tagihan listrik yang tidak transparan atau keterbatasan akses data energi.

“Behind every data point, there’s a story,” menjadi pengingat bahwa angka dan teknologi selalu berkelindan dengan pengalaman manusia. Dalam konteks ini, energi dipahami sebagai soal visibilitas, kontrol, dan rasa keadilan bagi pengguna, bukan sekadar efisiensi sistem.

Gender, disabilitas, dan keadilan akses energi

KINETIK’s GEDSI Partnership Manager, Pujiaryati Anggiasari, on Gender and Inclusion lens on clean energy reporting

Sesi berikutnya mengupas peliputan energi dari perspektif gender dan inklusi sosial. Peserta diajak mengajukan pertanyaan mendasar: siapa yang paling terdampak ketika akses energi tidak merata, dan siapa yang jarang muncul dalam pemberitaan?

Materi ini menegaskan bahwa akses energi di Indonesia masih timpang, terutama bagi perempuan, penyandang disabilitas, dan kelompok rentan. Karena itu, liputan energi tidak bisa dilepaskan dari isu keadilan sosial. Pilihan bahasa, sudut pandang, hingga narasumber yang dihadirkan sangat menentukan apakah sebuah liputan memperkuat atau justru mengaburkan ketimpangan tersebut.

“Tak ada keadilan energi dan perubahan iklim tanpa kesetaraan akses,” ujar Alfian, salah satu peserta, merespons diskusi hari itu.

Peserta juga diajak merefleksikan bias yang sering tidak disadari dalam peliputan, termasuk penggunaan istilah yang tidak inklusif atau penggambaran kelompok tertentu sebagai objek pasif.

Bagi Annisa Rizky Madina, sesi ini membuka pemahaman baru tentang keterkaitan isu energi dengan kelompok marjinal dan penyandang disabilitas, sebuah dimensi yang selama ini jarang hadir dalam pengarusutamaan liputan energi.

Melihat isu energi lebih utuh

Dhana Kencana, IDN Times journalist: Beyond the Story

Dalam sesi kerangka isu energi, peserta diajak membedakan sekaligus menghubungkan liputan iklim dan liputan energi. Jika isu iklim sering dibahas dalam skala global dan jangka panjang, isu energi justru sangat terasa dalam konteks lokal dan waktu yang lebih dekat, seperti harga listrik, kualitas pasokan, dan akses masyarakat.

Materi ini menekankan bahwa transisi energi bukan hanya soal mengganti pembangkit fosil dengan energi terbarukan. Transisi mencakup perubahan sistem produksi dan konsumsi energi, regulasi, model bisnis, serta dampak ekonomi dan sosial yang menyertainya.

Konsep just transition atau transisi yang adil menjadi salah satu sorotan utama. Tanpa perhatian pada pekerja, komunitas lokal, dan kelompok yang bergantung pada sistem energi lama, transisi berisiko menciptakan ketimpangan baru.

Dalam konteks ini, startup cleantech diperkenalkan sebagai bagian penting dari solusi, terutama dalam memperluas akses energi di wilayah yang selama ini tertinggal. Hubungan antara akses energi, inovasi startup, dan target jangka panjang menuju net zero diposisikan sebagai cerita yang kaya dan relevan untuk digali jurnalis.

Jurnalisme solusi dan cerita yang memberi harapan

Pelatihan juga memperkenalkan pendekatan jurnalisme solusi sebagai kerangka liputan energi bersih. Pendekatan ini menuntut jurnalis untuk tidak berhenti pada masalah, tetapi menguji respons yang ada melalui empat elemen utama: respons, bukti, pembelajaran, dan keterbatasan.

Isu energi dinilai sangat cocok untuk jurnalisme solusi karena sarat inovasi, namun juga penuh tantangan nyata seperti pembiayaan, regulasi, dan keberlanjutan. Liputan solusi yang kuat mampu menghadirkan apa yang disebut sebagai hope with teeth, harapan yang berbasis data dan realitas lapangan, bukan optimisme kosong

Pendekatan ini juga dipandang penting untuk mengatasi kelelahan audiens terhadap berita krisis iklim dan energi, dengan menghadirkan cerita yang memberi konteks, arah, dan mendorong tindakan nyata.

Memperkuat narasi lewat visual

Adi Guno, cameraman at Al-Jazeera: The art of visual storytelling

Sesi terakhir menekankan peran visual dan video dalam memperdalam liputan energi. Peserta mempelajari bahwa video bukan sekadar format tambahan, melainkan bahasa jurnalistik yang mampu menyampaikan emosi, proses, dan konteks secara lebih utuh.

Dengan memahami dasar pengambilan gambar, audio, dan alur visual, jurnalis didorong untuk tidak hanya “menjelaskan”, tetapi juga “menunjukkan” realitas di lapangan. Visual menjadi alat penting untuk mendekatkan isu energi dengan audiens yang semakin terbiasa dengan konsumsi konten digital.

Melampaui jargon dan statistik

KINETIK NEX Journalist Training 2025 menegaskan bahwa liputan energi bersih yang kuat selalu berangkat dari manusia. Dari pengalaman sehari-hari, isu gender dan disabilitas, hingga keadilan akses, energi adalah cerita tentang kehidupan.

Melalui pelatihan ini, KINETIK NEX mendorong lahirnya liputan energi yang lebih kritis, inklusif, dan relevan, sehingga transisi energi di Indonesia tidak hanya dipahami sebagai target kebijakan, tetapi sebagai proses bersama yang menyentuh semua lapisan masyarakat.

 

 

Explore More