Pelatihan Jurnalistik Matangi Bali dorong liputan yang kritis, inklusif, dan membumi

Lima belas peserta dari beragam latar belakang mengikuti Pelatihan Jurnalistik Matangi Bali yang digelar sebagai bagian dari upaya memperkuat peran media dalam mengawal isu energi bersih dan krisis iklim di Bali. Pelatihan ini menjadi ruang belajar bersama bagi jurnalis dan praktisi komunikasi untuk memahami isu iklim secara lebih utuh, sekaligus mengasah cara bercerita yang kritis, adil, dan relevan dengan kehidupan masyarakat.

Pelatihan dibagi ke dalam empat sesi utama, menghadirkan pembicara dari organisasi masyarakat sipil, pelaku startup energi bersih, hingga jurnalis senior yang telah lama meliput isu lingkungan.

Inovasi iklim bukan hanya soal teknologi

Sesi pertama dibuka oleh Aisyah Madeleine, Communication Specialist Koalisi Bali Emisi Nol Bersih, dengan topik “Inovasi untuk Mendukung Aksi Iklim”. Aisyah Madeleine yang lebih akrab disapa Maddy  menekankan bahwa krisis iklim tidak berdampak secara selektif, melainkan menyentuh semua orang dalam bentuk yang berbeda, mulai dari banjir, abrasi, polusi, hingga mikroplastik.

Menurut Maddy, aksi iklim di Bali memiliki karakter unik karena eratnya hubungan sosial budaya masyarakat dengan alam serta ketergantungan ekonomi pada sektor pariwisata, perikanan, dan pertanian. Aksi tersebut mencakup mitigasi, seperti pengurangan emisi dan transisi energi, serta adaptasi untuk mengurangi dampak yang tidak terhindarkan.

Ia juga mengingatkan jurnalis agar tidak terjebak melihat inovasi iklim semata sebagai teknologi. Perubahan cara hidup, cara bekerja, dan cara bersosial juga merupakan bentuk inovasi yang sering kali menuntut ketidaknyamanan. Tidak ada satu solusi tunggal untuk krisis iklim. Yang dibutuhkan adalah kemauan kolektif untuk berubah.

Dalam meliput isu iklim, jurnalis didorong menggunakan tiga pendekatan utama. Pertama, memahami kerangka besar keterkaitan isu. Kedua, mengasah naluri ilmiah dengan berpikir kritis dan berbasis data. Ketiga, menggunakan lensa keadilan untuk melihat relasi kuasa, kepentingan, serta dampak yang berbeda pada kelompok masyarakat.

Maddy juga menyoroti bahaya greenwashing dan pentingnya peran media dalam membedakan aksi iklim yang nyata dari sekadar klaim. Jurnalis perlu memeriksa sumber klaim, akreditasi, serta memastikan informasi dapat diverifikasi.

Startup Energi Bersih dan Peran Media

Sesi kedua menghadirkan Erlangga Bayu, pendiri BTI Energy dan Electric Wheel, serta I Kadek Alamsta dari New Energy Nexus Indonesia yang membahas peran startup dalam inovasi energi bersih di Bali. Mereka menegaskan bahwa industri energi bersih masih relatif baru di Indonesia, sehingga media memiliki peran penting dalam edukasi publik, bukan sekadar promosi produk.

Erlangga menjelaskan bahwa meski Indonesia telah berkomitmen mencapai Net Zero Emission pada 2060, tantangan di lapangan masih besar. Saat ini, sekitar 60 persen listrik nasional masih bersumber dari batu bara, termasuk di Bali yang terhubung dengan sistem kelistrikan Jawa.

Melalui BTI Energy, Erlangga mengembangkan pembangkit listrik tenaga surya atap dengan skema pembelian maupun leasing agar lebih terjangkau. Sementara Electric Wheel fokus pada konversi motor bensin menjadi motor listrik, termasuk pengembangan sistem tukar baterai untuk menjawab tantangan pengisian daya.

Erlangga dan Alamsta Ia berharap jurnalis dapat mengangkat isu energi bersih dengan menyoroti dampak nyata, seperti penghematan biaya dan penurunan emisi, serta membantu meluruskan miskonsepsi yang masih banyak beredar di masyarakat.

Transisi energi yang adil dan inklusif

Sesi ketiga dibawakan oleh Aidy Halimanjaya, Direktur Just Transition Indonesia, yang mengangkat isu gender, inklusi, dan ekuitas dalam transisi energi. Ia menekankan pentingnya framing risiko dan peluang, terutama ketika membahas isu inklusivitas dengan investor.

Menurut Aidy, banyak ketidakadilan struktural dalam sektor energi, mulai dari bias pendanaan, kebijakan yang buta gender, hingga norma budaya yang membatasi peran perempuan. Di sinilah peran jurnalis menjadi krusial untuk mengungkap distribusi sumber daya, proses partisipasi, serta akar masalah historis.

Liputan berkeadilan tidak hanya menyoroti ketimpangan, tetapi juga mengangkat kisah sukses dari komunitas agar memberi harapan. Ia juga mengingatkan pentingnya membangun kepercayaan dengan masyarakat adat, termasuk dengan “memberi kembali” hasil liputan dalam bentuk yang mudah dipahami dan bermanfaat bagi komunitas.

Storytelling multimedia yang aksesibel

Pelatihan ditutup oleh Luh De Suriyani, Pemimpin Redaksi BaleBengong, yang membahas pentingnya storytelling visual dan multiplatform. Ia menekankan bahwa karya jurnalistik perlu mudah diakses, termasuk oleh penyandang disabilitas, serta disampaikan dengan bahasa yang sederhana dan kontekstual.

 

Menurutnya, jurnalisme hari ini tidak bisa hanya mengandalkan teks panjang di website. Generasi muda mengakses informasi melalui berbagai platform, dengan kebutuhan yang berbeda. Multimedia, ilustrasi, peta interaktif, audio, dan video dapat membantu menjelaskan isu yang kompleks secara lebih mudah dipahami.

Ia juga mengingatkan jurnalis untuk benar-benar turun ke lapangan, mengamati proses, dan menggali masalah utama dari sebuah isu. Liputan yang baik bukan sekadar memuji inovasi, tetapi menguji klaim, menemukan celah, dan tetap berpijak pada kepentingan publik.

___

Pelatihan Jurnalistik Matangi Bali tidak hanya membekali peserta dengan pengetahuan teknis, tetapi juga mengajak mereka melihat jurnalisme sebagai kerja relasional yang membutuhkan kepercayaan, empati, dan keberlanjutan. Di tengah krisis iklim yang semakin nyata, jurnalis diharapkan mampu menjadi jembatan antara kebijakan, inovasi, dan kehidupan sehari-hari masyarakat Bali.

Melalui liputan yang kritis, inklusif, dan membumi, jurnalisme diharapkan tidak berhenti sebagai arsip berita, tetapi menjadi bagian dari upaya kolektif merawat narasi yang mengedukasi dan relevan.

Explore More