
Sebagai wilayah kepulauan yang kaya akan budaya dan alam, Ambon kini berada di garis depan menghadapi dampak perubahan iklim. Namun, di balik tantangan tersebut, muncul semangat baru dari warganya untuk melahirkan inovasi yang tak hanya melindungi lingkungan, tetapi juga memperkuat ekonomi lokal.
Pada 6 November 2025, Lokakarya Inovasi Iklim KINETIK NEX kembali diadakan dan mempertemukan 65 peserta dari berbagai latar belakang seperti pelajar, pegiat komunitas, pemerintah daerah, akademisi, hingga sektor swasta di Kota Ambon, untuk bersama-sama merumuskan berbagai ide bisnis yang terinspirasi oleh inovasi di tengah kondisi perubahan iklim.
Di pulau seperti Ambon, keterbatasan ruang sering membuat sampah menjadi persoalan lingkungan yang tidak ada habisnya. Tak heran, salah satu bentuk inovasi iklim yang tumbuh dari anak muda setempat adalah inisiatif pengelolaan sampah yang tidak hanya menjaga lingkungan, tetapi juga menggerakkan ekonomi lokal.

Stella dan Haje, Founder Bhupala Bank Sampah | Foto: Adri Putra
Lokakarya Inovasi Iklim kali ini lantas menghadirkan narasumber Stella dan Haje, dua pendiri Bhupala Bank Sampah, untuk membagikan bagaimana persoalan sampah di sekitar mereka berkaitan erat dengan perubahan iklim.
Stella melihat langsung perubahan yang terjadi di Pasar Mardika, tempat ia tinggal. Kawasan tersebut dulunya tidak pernah banjir. Namun sejak 2010, suhu udara meningkat, intensitas hujan bertambah, dan sistem pengelolaan sampah yang tidak memadai menyebabkan banjir tahunan di wilayah tersebut. Haje menambahkan data dari citra satelit TPA di Ambon yang menunjukkan perluasan area dari 2020 hingga 2024, menandakan meningkatnya produksi sampah kota.
“Kota Ambon menghasilkan 220 ton sampah setiap hari. Yang terangkut hanya 120-140 ton saja. Lalu kemana 30-40 ton sampah yang lain?” pertanyaan Haje dijawab serempak oleh peserta, “ke laut”, sebuah jawaban yang mencerminkan persoalan harian bagi masyarakat di pesisir Ambon.
Stella dan Haje, Founder Bhupala Bank Sampah | Foto: Adri PutraKenyataan tersebut menunjukkan adanya celah besar dalam sistem pengelolaan sampah yang berimbas pada pencemaran laut yang merupakan sumber pangan sekaligus ekonomi masyarakat Ambon. Dari situlah Bhupala Bank Sampah menghadirkan inovasi pengelolaan berbasis ekonomi sirkular dengan melakukan pemilahan dari sumbernya, memberdayakan pemulung sebagai garda terdepan, hingga mengolah limbah menjadi kompos, bantal ecobrick, dan mengembangkan biofuel.
Kisah Stella dan Haje menunjukkan bagaimana perubahan iklim memicu lahirnya solusi lokal yang berkelanjutan. Pandangan serupa juga datang dari narasumber lainnya yakni David Rampisela dari Maluku Youth Creative Hub. Baginya, alam dan budaya di Ambon tumbuh beriringan.
“Kita juga orang yang belajar, yang bisa membaca fenomena alam. Kita masih bertahan sampai hari ini karena kita punya kebijaksanaan yang disepakati bersama,” ujarnya.
Menurut David, ketangguhan masyarakat Ambon tidak hanya soal bertahan, tetapi juga cara menjaga kedekatan dengan alam.

David Rampisela, Ketua Umum Maluku Youth Creative Hub | Foto: Adri PutraDavid
David Rampisela, Ketua Umum Maluku Youth Creative Hub mengingatkan bahwa inovasi sering dibayangkan sebagai sesuatu yang besar dan berteknologi tinggi. Padahal menurutnya,
“Hal-hal yang kita lakukan untuk mengatasi masalah terdekat di sekitar kita itu juga termasuk inovasi.” Ia juga menambahkan “Kebanyakan inovasi tingkat tinggi membutuhkan sumber daya yang besar. Akhirnya kita jadi merasa, ‘Ah, susah kalau mau bikin yang begitu,’ dan kita jadi tidak bergerak.”
Inovasi, menurut David, dapat tumbuh dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten. Ia mencontohkan inisiatif komunitas dalam membuat ruang kebudayaan hingga mengembangkan pertanian cabai untuk memperkuat ekonomi lokal.
Pengalaman Haje, Stella, dan David dalam mengembangkan peluang dan inovasi memantik kreativitas para peserta, terutama saat memasuki sesi merancang ide solusi iklim menggunakan metode design thinking. Dalam enam kelompok, peserta merumuskan ide-ide inovasi lokal yang menggabungkan pengetahuan, pengalaman, dan kebutuhan masyarakat, seperti:
- TPS terpadu berbasis ekonomi sirkular di bantaran sungai
- Rumah maggot dan eco-enzyme untuk sampah organik
- Aplikasi pemantauan pemilahan sampah berbasis komunitas
- Diversifikasi produk kelapa agar tidak hanya menjadi kopra
- Biochar untuk mendukung ekowisata
- Sistem pengelolaan sampah terpadu untuk wilayah Galala
Enam ide ini melengkapi rangkaian Lokakarya Inovasi Iklim yang diselenggarakan di Kupang, Makassar, dan Ambon sepanjang September—November 2025. Setiap kota tersebut telah menjadi ruang bertukar gagasan sekaligus menunjukkan bagaimana persoalan lokal dapat menjadi sumber inovasi.

Workshop participants | Foto: Adri Putra

Peserta Lokakarya Workshop participants | Foto: Adri Putra
Lokakarya Inovasi Iklim juga akan menjadi bagian dari kegiatan [RE]Spark: Clean Energy & Climate Startup Festival 2025 yang akan diadakan pada 15 November 2025 di Ballroom Menara Danareksa, Jakarta. Dalam kesempatan tersebut, pengalaman dari tiap lokakarya, mulai dari pengelolaan sampah urban di Makassar, krisis air bersih di Kupang, pencemaran laut di Ambon, hingga inovasi inklusif untuk penyandang disabilitas, akan hadir sebagai bagian dari upaya untuk menemukan solusi berbasis bisnis untuk berbagai tantangan iklim saat ini. Hadirnya berbagai inisiatif lokal di RE]Spark: Clean Energy & Climate Startup Festival 2025 akan menjadi pengingat bahwa solusi iklim tidak selalu datang dari lab besar atau teknologi mahal, tetapi dari komunitas yang memahami lingkungannya dan jeli dalam melihat peluang.
Pendaftaran dan informasi lebih lanjut terkait Lokakarya Inovasi Iklim dan [RE]Spark: Clean Energy & Climate Startup Festival 2025 dapat diakses di: join-nex.co/respark2025
Sampai Bakudapa!
Penulis: Shilfina Putri Widatama
Foto oleh: Adri Putra dan Eluma Production House