
Di Kupang, perubahan iklim berdampak pada musim kering yang lebih panjang dan cuaca tidak menentu. Hasil panen dan tangkapan ikan menurun, mata pencaharian masyarakat terganggu. Namun di tengah gempuran tersebut beberapa pelaku usaha lokal melihat adanya peluang bisnis dengan menyelesaikan isu iklim, termasuk dengan menjadi bagian dari transisi energi.

Participants at the event
Program KINETIK NEX, yang diinisiasi oleh KINETIK bersama New Energy Nexus Indonesia, hadir untuk mendorong lahirnya solusi dan inovasi iklim. Salah satu inisiatifnya adalah Lokakarya Inovasi Iklim KINETIK NEX, yang pada 24 September 2025 digelar di Kupang sebagai lokasi perdana. Kegiatan ini mempertemukan kaum muda, komunitas, pemerintah daerah, pelaku usaha, institusi keuangan, dan organisasi masyarakat sipil untuk merumuskan ide relevan dengan kondisi lokal, dengan mempertimbangkan aspek modal, keterampilan, dan dukungan ekosistem. Lokakarya ini menjadi langkah awal memperkuat ekosistem energi bersih secara inklusif dan berkelanjutan sambil memperluas peranan kewirausahaan sebagai bagian dari jawaban atas tantangan iklim di tingkat lokal.
Melalui berbagai kegiatan yang menekankan empati, riset, serta kreativitas, lokakarya Inovasi Iklim KINETIK NEX di Kupang mengajak para peserta untuk memahami persoalan, mengidentifikasi isu utama, dan melakukan simulasi penciptaan inovasi baru menggunakan pendekatan design thinking.
Lokakarya Inovasi Iklim KINETIK NEX dimulai dengan mengajak para peserta untuk mengenal kembali lingkungan sekitar dan memahami persoalan. Yunitha Yasinta Adoe, seorang aktivis sekaligus pembudidaya rumput laut di Pasir Panjang, Kupang, memaparkan salah satu materi mendasar yang menjadi titik berangkat yaitu identifikasi perubahan iklim termasuk dampaknya terhadap kelompok rentan seperti nelayan perempuan.

“Kalau kita sering naik turun ke pantai di Pasir Panjang sekarang, rasanya setengah mati karena pembatas pantai sudah rusak. Itu yang memotivasi para perempuan di sini untuk menyuarakan pembangunan kembali infrastruktur yang rusak, bukan malah membangun jogging track yang tidak dibutuhkan masyarakat,” ujar Yasinta.
Yasinta mencontohkan bagaimana alih fungsi lahan pesisir yang sudah rusak untuk proyek yang tidak berkelanjutan, seperti pembangunan jogging track, justru mempersulit alih-alih membantu kelompok nelayan dan perempuan pesisir yang menggantungkan hidup dari sumber daya laut. Dengan mengajak peserta melihat langsung bagaimana perubahan iklim mempengaruhi kehidupan masyarakat pesisir, Yasinta menekankan pentingnya memahami perubahan di sekitar dan melihat keterkaitan antara pembangunan, kelestarian lingkungan, serta keberlangsungan mata pencaharian masyarakat lokal.

Ben Fasco at the event
Narasumber berikutnya, Ben Vasco Tarigan, CEO dan Founder Kuan Timor Teknologi, sebuah startup berbasis di Kupang yang menawarkan berbagai solusi untuk menjawab persoalan lokal membagikan pengalaman serta tips dalam merancang solusi dengan satu pertanyaan mendasar untuk para wirausahawan:
“Setelah kita tahu masalahnya, kita harus menentukan solusinya. Apa solusi yang mau ditawarkan?” ujar Ben.
Pertanyaan ini menjadi ajakan untuk membuka wawasan peserta terhadap beragam peluang inovasi. Ia mencontohkan pemanfaatan alat desalinasi bertenaga matahari sebagai jawaban bagi daerah yang mengalami kekeringan namun kaya akan sinar matahari, hingga teknologi pengering berdaya listrik rendah yang dapat memperkuat perekonomian masyarakat setempat.
Meski para peserta baru pertama kali duduk bersama dalam satu forum, nyatanya berbagai gagasan lahir dan mencakup berbagai bidang, mulai dari pengolahan sampah, pengelolaan air, hingga peningkatan produktivitas pertanian. Semua ide ini tumbuh dari semangat kolaborasi dan keyakinan bahwa tantangan iklim dapat diatasi melalui kreativitas dan kerja bersama.
Lokakarya Inovasi Iklim KINETIK NEX di Kupang adalah langkah awal untuk memperkuat ekosistem kewirausahaan hijau untuk lintas komunitas. Karena di tengah tantangan perubahan iklim, selalu ada peluang untuk tumbuh dan berinovasi.
Meski para peserta baru pertama kali duduk bersama dalam satu forum, lokakarya ini memantik beragam gagasan yang mencakup berbagai bidang, mulai dari pengolahan sampah, pengelolaan air, hingga peningkatan produktivitas pertanian. Pertemuan lintas sektor ini menunjukkan bahwa ketika pengetahuan lokal, pengalaman komunitas, dan wawasan teknis dipadukan, muncul peluang-peluang baru yang relevan dengan kebutuhan komunitas setempat. Ide-ide tersebut tumbuh dari semangat kolaborasi dan keyakinan bahwa tantangan iklim dapat dihadapi melalui kreativitas, kerja bersama, dan keberanian untuk mencoba pendekatan baru.


Dengan memulai kegiatan di Indonesia Timur, lokakarya Inovasi Iklim KINETIK NEX di Kupang menjadi langkah awal untuk memperkuat ekosistem kewirausahaan hijau yang inklusif dan berkelanjutan. Kolaborasi dan partisipasi aktif yang mewarnai kegiatan ini adalah bukti bahwa selalu ada peluang untuk tumbuh, berinovasi, dan membentuk masa depan yang lebih tangguh serta berkeadilan bagi masyarakat dan lingkungan, di tengah perubahan iklim sekali pun.
Nantikan Lokakarya Inovasi Iklim di lokasi berikutnya!
Penulis: Shilfina Putri Widatama
Foto oleh: Jefri Tarigan