Galungan selalu menjadi penanda tentang kemenangan kebaikan atas keburukan. Di Bali, makna ini tidak hanya hidup dalam ritual, tetapi juga dalam cara manusia menjaga keseimbangan dengan alam. Pada 13 Desember 2025, semangat itu dirayakan melalui Megalungan Iklim, sebuah acara yang digagas oleh New Energy Nexus Indonesia dan diselenggarakan bersama Good Friends, sebagai ruang temu untuk merayakan pencapaian, proses, dan upaya-upaya baik dalam menjaga bumi.

Bertempat di Bokasi Farm, Denpasar Timur, Megalungan Iklim dirancang sebagai perayaan yang sadar lingkungan sejak awal. Tidak ada plastik sekali pakai. Seluruh hidangan dimasak oleh warga desa dengan menu tradisional. Dekorasi dibuat dari bahan alami dan hasil bumi sekitar. Acara ini bukan sekadar selebrasi, tetapi juga pengingat bahwa nilai menjaga alam dapat diwujudkan dalam praktik sehari-hari.
“Kami ingin Galungan dirayakan sebagai momen refleksi,” ujar Alamsta, Program Associate New Energy Nexus Indonesia, “Bahwa kebaikan itu juga berarti menjaga tanah, laut, dan udara yang kita hidupi bersama.”
Penjor dan gebogan, proses yang dibangun bersama
Di Megalungan Iklim, penjor dan gebogan tidak hadir sebagai dekorasi siap pakai. Seluruh peserta terlibat langsung dalam proses pembuatannya.
Dalam tradisi Bali, penjor melambangkan gunung dan kemakmuran, sementara gebogan adalah simbol rasa syukur atas hasil bumi yang dipersembahkan kembali kepada alam dan Sang Pencipta. Seluruh bahan yang digunakan berasal dari buah-buahan lokal Bali, sebagai bentuk dukungan terhadap petani dan rantai pangan setempat.

Astria dan rekan-rekan membuat gebogan
“Kami sengaja menggunakan buah lokal supaya nilai perayaannya tidak berhenti di simbol,” kata Astria, salah satu peserta. “Ada dukungan nyata ke petani, ada rasa tanggung jawab ke alam.”
Bagi beberapa peserta yang merupakan pendatang, proses ini menjadi ruang belajar yang bermakna.

“Kami excited karena ini pertama kali bikin penjor dan gebogan. Biasanya cuma lihat,” ujar April, Angga, dan Deo dari Pande. “Lewat proses ini, kami merasa lebih terhubung dengan budaya Bali, bukan cuma sebagai penonton.”
Selain membuat penjor dan gebogan, Megalungan Iklim juga dihidupkan oleh permainan dan ekspresi budaya tradisional Bali yang melibatkan seluruh peserta. Salah satunya adalah permainan rakyat yang terinspirasi dari sabung ayam. Alih-alih mengadu ayam, peserta mengadu kelapa yang dilukis menyerupai ayam, kemudian diadu hingga salah satu kelapa pecah.
“Yang pecah duluan, kalah,” kata salah satu MC sambil memandu permainan. Permainan sederhana ini menjadi ruang lepas dari keseriusan diskusi iklim, sekaligus pengingat bahwa tradisi bisa dirayakan dengan cara yang aman, kreatif, dan penuh kebersamaan.


Rangkaian perayaan juga dilengkapi dengan tarian tradisional Bali yang dibawakan di tengah area acara. Di Megalungan Iklim, seni hadir bukan sebagai tontonan semata, tetapi sebagai bahasa budaya yang mengingatkan hubungan manusia dengan alam, leluhur, dan ruang hidupnya.

Pameran UMKM: merayakan proses inovasi
Megalungan Iklim juga menjadi panggung bagi sepuluh UMKM dan startup hasil inkubasi program Matangi Bhumi Lestari, yang diprakarsai oleh New Energy Nexus Indonesia bersama INBIS Bali. Pameran ini bukan sekadar etalase produk, tetapi perayaan proses panjang yang dilalui para pelaku usaha dalam menjawab persoalan lingkungan.
Lukman, pendiri Kami Studio, menemukan arah usahanya justru dari pengalaman lapangan.

“Tahun lalu, Aku ikut Jelajah Iklim bareng New Energy Nexus ke Tegalalang,” ceritanya. “Ketemu pengelola TPS3R dan sadar kalau sampah organik itu yang paling banyak di Bali.”
Dengan latar belakang desain produk dan riset tentang material alternatif, Lukman melihat peluang.

“Dari situ aku mikir, ini sejalur sama apa yang aku pelajari. Aku bisa bikin produk dari sampah organik. Itu yang akhirnya melahirkan Kami Studio.”
Sementara itu, Ethneeq hadir dengan cerita tentang limbah yang menemukan hidup baru. Salsabila dari tim produksi bercerita bagaimana kerja sama dengan hotel mengubah arah bisnis mereka.
“Hotel Mulia Nusa Dua bilang mereka punya banyak limbah handuk, sprei, sampai robe,” ujarnya. “Bahannya masih bagus, tapi butuh peremajaan,”
Kini Ethneeq mengolah limbah tekstil tersebut melalui proses desain ulang dan produksi ulang.

“Produk ini tidak bisa langsung dipakai. Harus melalui proses yang cukup panjang,” kata Salsabila. “Lewat program Matangi Bhumi Lestari, kami bisa mematangkan rencana ekspansi.”
Tentang Megalungan Iklim, ia menambahkan, “Sebagai UMKM, kami butuh ruang untuk memperkenalkan produk. Kalau bangun branding sendirian dari nol, itu berat. Di sini kami merasa ditemani.”
Diskusi: Akselerasi Bali menuju net zero
Ruang refleksi juga hadir lewat diskusi bertajuk “Akselerasi Bali Net Zero: Inovasi, Komunitas, dan Aksi Nyata.”Diskusi ini mempertemukan perspektif pemerintah, asosiasi industri, dan pelaku inovasi.

Hadir sebagai pembicara, I Putu Gatot, Manajer Inkubator Bisnis Pemerintah Provinsi Bali, Gusti Ayu Kade, Ketua Asosiasi Panel Surya Abadi Bali, serta Putu Yindy Kurniawan, founder Volto Sea dan Percik Daya Nusantara. Diskusi dimoderatori oleh Sekar Trisnaning dari Koalisi Bali Emisi Nol Bersih.
Putu Yindy menyoroti tantangan energi di sektor kelautan.
“Mesin kapal nelayan kecil, jadi mereka sering isi ulang bensin. Risiko bensin dan oli bocor ke laut itu besar,” jelasnya. “Elektrifikasi mesin bukan cuma soal menurunkan emisi, tapi juga menjaga laut tetap bersih.”
Ia menambahkan bahwa transisi ini membuka peluang ekonomi baru.
“Nelayan dengan mesin listrik bisa menawarkan jasa transportasi wisata ke terumbu karang. Ada tambahan penghasilan, ada diversifikasi ekonomi,” katanya. “Tantangannya adalah bagaimana solusi ini bisa diekspansi dan dihubungkan dengan ekosistem yang lebih besar.”
Gandeng startup dan melangkah menuju infrastruktur yang lebih berkelanjutan
Komitmen Megalungan Iklim terhadap aksi nyata terlihat jelas melalui penandatanganan Nota Kesepahaman antara Volto Sea dan Leastric dengan BUPDA Intaran Sanur, yang difasilitasi oleh New Energy Nexus Indonesia.

MoU ini merupakan tindak lanjut dari pilot project pemasangan Stasiun Pengisian Baterai Dual-Use di Sanur. Stasiun ini dirancang agar dapat digunakan baik untuk mesin listrik kapal nelayan maupun kendaraan listrik darat, termasuk motor listrik. Dengan satu infrastruktur, kebutuhan energi laut dan darat dapat dilayani secara bersamaan.
“Ini penting karena Sanur adalah kawasan pesisir dan pariwisata,” ujar salah satu perwakilan. “Aktivitas laut dan darat saling terhubung, begitu juga kebutuhan energinya.”
Dalam kerja sama ini, Volto Sea berperan dalam pengembangan dan implementasi infrastruktur pengisian baterai untuk kapal listrik, sementara Leastric menjalankan pilot Smart Energy Management System di salah satu hotel di kawasan Sanur. Sistem ini memungkinkan pemantauan penggunaan energi secara real time, membantu pelaku usaha memahami pola konsumsi energi dan mengelolanya dengan lebih efisien.
“Dengan sistem ini, penggunaan energi bisa dimonitor dan dioptimalkan,” jelas perwakilan Leastric. “Bukan hanya soal hemat, tapi juga soal transparansi dan perencanaan energi jangka panjang.”
Melalui MoU ini, aset pilot project secara resmi diserahkan kepada BUPDA Intaran Sanur untuk dikelola dan dioperasikan bagi kepentingan masyarakat. BUPDA memiliki kewenangan untuk mengembangkan model bisnis yang berkelanjutan, termasuk skema pengelolaan dan pemanfaatan stasiun pengisian baterai.
Harapannya, proyek ini bukan proyek yang selesai saat alat terpasang, namun awal dari proses panjang agar energi bersih benar-benar menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari warga.
Menutup dengan alunan nada pengingat jaga alam

Menjelang malam, Megalungan Iklim ditutup dengan penampilan Dialog Dini Hari. Lagu-lagu folklore yang dibawakan mengalir pelan, membawa pesan tentang isu sosial, relasi manusia dengan alam, dan ingatan kolektif yang sering terpinggirkan.
Di tengah suasana yang hening, lirik-lirik itu terasa seperti pengingat: bahwa perubahan tidak selalu datang dengan suara keras, tetapi dengan kesadaran yang tumbuh perlahan.
Megalungan Iklim tidak menawarkan jawaban instan, namun jadi ruang merayakan proses, mempertemukan niat baik, dan menguatkan kolaborasi. Seperti Galungan itu sendiri, acara ini menjadi penanda bahwa menjaga bumi adalah bagian dari kebaikan yang perlu terus diperjuangkan.
Penulis: Raisha Fatya
Foto: I Gusti Agung/ Memora & Raisha Fatya