
Peserta Lokakarya | Foto: Rey Padji, Prasetio Angie Alodia
Krisis iklim bukan isu yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Di Nusa Tenggara Timur (NTT, dampaknya terasa nyata, mulai dari cuaca yang makin sulit ditebak hingga tekanan pada pangan dan penghidupan. Karena itu, upaya menghadapinya perlu kerja sama pemerintah, komunitas, pelaku usaha, hingga generasi muda.
Pada 29 Januari 2026, KINETIK NEX menyelenggarakan Lokakarya Inovasi Iklim di Kupang. Di ruang pertemuan itu, kami melihat langsung bagaimana kolaborasi lintas pihak bisa tumbuh menjadi gagasan-gagasan yang relevan dengan kebutuhan NTT.

Ester Elisabeth Umbu Tara, Bapalok (“Bacarita Pangan Lokal”) | Foto: Rey Padji, Prasetio Angie Alodia
Di tingkat komunitas, Ester Elisabeth Umbu Tara melalui komunitas Bapalok (“Bacarita Pangan Lokal”) menjadi contoh bahwa kearifan lokal adalah bagian penting dari solusi. Melalui seri “Puan dan Pangan” di YouTube, mereka mengajak kita melihat kembali pangan tradisional sebagai identitas budaya yang tangguh terhadap cuaca ekstrem, sekaligus menghapus stigma bahwa pangan lokal identik dengan kemiskinan.
Upaya ini bukan sekadar soal makanan. Ini tentang identitas dan cara bertahan di tengah perubahan iklim.

Valentin Da Gama, Youth Voice Now Kupang | Foto: Rey Padji, Prasetio Angie Alodia
Semangat serupa juga datang dari generasi muda. Valentin Da Gama melalui Youth Voice Now Kupang, di bawah koordinasi ChildFund International Indonesia, aktif mendorong praktik konservasi dan gaya hidup berkelanjutan di tingkat desa, memastikan suara kaum muda menjadi motor penggerak adaptasi iklim.
Selain aksi dari komunitas-komunitas lokal, napas panjang perjuangan iklim di Timor juga datang dari inovasi di sektor finansial.

John Edison Tafuy, Bank NTT | Foto: Rey Padji, Prasetio Angie Alodia
John Edison Tafuy, Kepala Subdivisi Kredit Sektor Lainnya Bank NTT, berbagi bagaimana skema kredit Green House membantu petani hortikultura tetap berproduksi di tengah anomali cuaca. Dengan dukungan pembiayaan yang tepat, petani dapat menjaga hasil panen cabai dan sayuran meski kondisi cuaca tidak menentu.
Langkah ini memperlihatkan bahwa ketahanan pangan tidak hanya bergantung pada lahan dan cuaca, tetapi juga pada akses pembiayaan adaptif.

Adi Nexon Tomyan Langga, S.Pi, M.Si, M.Sc, Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi NTT | Foto: Rey Padji, Prasetio Angie Alodia
NTT memiliki potensi sumber energi baru terbarukan (EBT) yang besar, menjangkau aspek yang lebih luas dari respon terhadap krisis iklim semata. Adi N. T. Langga, S.Pi, M.Si, M.Sc, Kepala Bidang Energi Baru Terbarukan, Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi NTT menyampaikan bahwa transisi dari energi fosil bukan hanya soal menurunkan emisi. Lebih dari itu, pengurangan ketergantungan pada pemerintah NTT bertujuan untuk memanfaatkan subsidi sumber energi fosil yang diharapkan dapat membuka ruang fiskal untuk membiayai kebutuhan mendasar, seperti pendidikan, peningkatan kualitas tenaga kerja, pengentasan kemiskinan, hingga pencegahan stunting.
Melihat besarnya potensi EBT dan semangat inovasi lokal yang organik, KINETIK NEX hadir di Kupang untuk memantik ide-ide kreatif dan implementasi bisnis yang berkelanjutan.
Semangat ini tercermin dalam Lokakarya Inovasi Iklim yang diselenggarakan pada 29 Februari 2026 di Kupang, di mana para peserta merumuskan 8 ide brilian sebagai solusi nyata untuk tantangan di NTT:
- Kelompok 1: Pemanfaatan panel surya untuk penerangan rumah tangga di wilayah yang masih kesulitan akses listrik.
- Kelompok 2: Pengembangan pangan berbasis kelor sebagai solusi nutrisi untuk menekan angka stunting yang tinggi di NTT.
- Kelompok 3: Inisiatif rebusan pangan lokal untuk mempromosikan kuliner khas NTT sekaligus memitigasi emisi karbon.
- Kelompok 4: Aplikasi bank sampah digital untuk mengurangi praktik pembakaran sampah yang merusak kesehatan dan memperparah iklim.
- Kelompok 5: Remote-controlled solar dryer untuk pengeringan rumput laut guna meminimalisir ketergantungan pada cuaca yang tak menentu.
- Kelompok 6: Layanan konsultan kebijakan publik untuk membantu pemerintah menciptakan program iklim yang lebih tepat sasaran.
- Kelompok 7: Aplikasi manajemen sampah terintegrasi untuk mengatasi tingginya volume sampah di Kota Kupang.
- Kelompok 8: Program restorasi melalui transplantasi terumbu karang untuk memperbaiki ekosistem laut yang rusak.
Melalui lokakarya ini, KINETIK NEX berupaya menjembatani ide akar rumput, energi generasi muda, dan inovasi finansial ke dalam kerangka kebijakan jangka panjang.

Steny Risambessy, Perwakilan Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia (Department of Foreign Affairs and Trade, DFAT) | Foto: Rey Padji, Prasetio Angie Alodia
“Semoga dari Kupang akan lahir langkah-langkah nyata menuju masa depan yang berkelanjutan”, ucap Steny Risambessy, Perwakilan Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia (Department of Foreign Affairs and Trade, DFAT) menutup acara Lokakarya Iklim di Kupang lalu.
Sampai jumpa di lokakarya berikutnya!

Penulis: YN Labas
Foto oleh: Rey Padji & Prasetio Angie Alodia, Loobeta