Story
Cerita
Indonesia
Kaum Muda
Dari sampah jadi peluang: Lokakarya inovasi iklim Ambon

Bagi Oma Betty Balubun, sampah bukan lagi sekadar limbah yang mengotori selokan di depan rumahnya. Di usia senjanya, Oma Betty merupakan salah satu penerima manfaat dari program Bank Sampah Ambon Hijau yang diinisiasi oleh Green Moluccas. Dari tabungan hasil mengumpulkan sampah plastik, Oma Betty memperoleh tambahan pemasukan saat ia membutuhkannya.

Kisah Oma Betty adalah satu dari sekian banyak bukti bahwa inovasi iklim di Maluku tidak melulu dengan mesin atau teknologi canggih, melainkan tentang perubahan perspektif yang mampu mengubah kebiasaan sehari-hari.

Semangat ini kembali muncul dalam Lokakarya Inovasi Iklim di Ambon pada 22 Januari 2026. Acara ini menjadi ruang kolaborasi KINETIK NEX bersama Green Moluccas, yang fokus pada edukasi pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular dan pemberdayaan wirausaha hijau (green entrepreneurs), serta Yayasan Sasi Alam Indonesia (Yasi.ID) yang bergerak di bidang pengembangan kapasitas masyarakat pesisir melalui riset dan inovasi teknologi tepat guna

Ambon menghadapi realita pahit: volume sampah yang tinggi dan sistem pengelolaan yang belum optimal seringkali berakhir menjadi penyebab banjir tahunan.

Geofanny Lopulisa, Green Moluccas | Foto: Rocky Arthur Tahapary

Geofanny Lopulisa dari Green Moluccas meyakini bahwa mengurangi volume sampah saja tidak cukup. Perlu ada peningkatan kesadaran terhadap nilai sampah yang bisa memberikan manfaat finansial berkelanjutan dengan melibatkan masyarakat sekitar.

Di sisi lain, Hana Tirza C. Theorupun dari Yayasan Sasi Alam Indonesia membawa perspektif masyarakat rentan di pesisir dan pulau-pulau kecil. Masyarakat adat adalah mereka yang paling sedikit berkontribusi pada pemanasan global, namun paling pertama merasakan dampaknya, kenaikan suhu yang merusak siklus tanam-panen, salah satunya. Yasi.ID menekankan pentingnya strategi komunikasi “Middle-Down” (mendengarkan dan berbicara dengan bahasa masyarakat) serta “Middle-Up” (menerjemahkan suara warga menjadi kebijakan).

Hana Tirza C. Theorupun, Yayasan Sasi Alam Indonesia | Foto: Rocky Arthur Tahapary

Belajar dari pengalaman Yayasan Sasi Alam Indonesia membangun rumah pengering rumput laut yang akhirnya tidak terpakai karena kurangnya pelibatan warga sejak tahap perencanaan, lokakarya ini menekankan pendekatan rancang bersama (co-design). Intinya, inovasi harus dirumuskan, dibayangkan, dan diuji coba bersama masyarakat agar sesuai dengan konteks geografi dan sosial mereka.

Dari sesi perumusan ide, peserta merancang 10 gagasan bisnis hijau untuk menjawab tantangan spesifik di Ambon:

Kelompok 1: Diversifikasi limbah ikan tuna menjadi produk olahan bernilai ekonomi untuk mengatasi masalah jarak tangkap nelayan yang semakin jauh.
Kelompok 2: Pengembangan kreasi produk retail dari botol plastik berwarna untuk mengurangi kebocoran sampah dari sungai ke laut.
Kelompok 3: Restorasi ekosistem melalui transplantasi karang dan sosialisasi metode penangkapan ikan legal untuk mengatasi fenomena pemutihan karang (coral bleaching).
Kelompok 4: Pengembangan ekowisata mangrove yang dilengkapi sistem penghalang sampah (trash barrier) untuk mencegah banjir dan penggundulan hutan bakau di wilayah Paso.
Kelompok 5: Implementasi filtrasi air laut berbasis teknologi tepat guna untuk mengatasi krisis air bersih akibat pencemaran muara di Kelurahan Wainity.
Kelompok 6: Inisiasi kafe ramah lingkungan “KAFRENDLY” yang mengolah sisa konsumsi menjadi ecobrick dengan sistem insentif bibit tanaman bagi pelanggan.
Kelompok 7: Pengembangan konsep pembangkit listrik tenaga sampah skala lokal melalui pemanfaatan energi uap dari hasil pengolahan sampah.
Kelompok 8: Pemanfaatan sedimentasi sungai di Desa Galala menjadi material batako (paving block) untuk mengurangi pendangkalan teluk saat curah hujan tinggi.
Kelompok 9: Pengolahan limbah organik menjadi pupuk kompos dan eco-enzyme menggunakan mesin daur ulang bertenaga surya.
Kelompok 10: Penerapan sistem filtrasi/penyaringan air cerdas berbasis IoT (SIAP ID) untuk menyediakan akses air bersih yang terjangkau bagi masyarakat terdampak pencemaran sungai.

Peserta Lokakarya | Foto: Rocky Arthur Tahapary

Sesi lokakarya ini menekankan bahwa inovasi iklim yang berkelanjutan adalah yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. Inovasi bukanlah proses instan, ia penuh dengan hambatan dan membutuhkan komitmen jangka panjang.

Perjalanan advokasi Yayasan Sasi Alam Indonesia membuktikan bahwa kunci keberhasilan kegiatan advokasi terletak pada kolaborasi strategis yang menghargai pengetahuan lokal (indigenous knowledge). “Inovasi akan lebih mudah diterima jika dirancang bersama masyarakat, bukan hanya untuk masyarakat”, ucap Tierza. Melalui sinergi antara semangat kewirausahaan hijau anak muda dan pendekatan berbasis komunitas, Ambon kini sedang merajut ketangguhannya sendiri.

Sampai Bakudapa (berjumpa) di Lokakarya Iklim selanjutnya!

Peserta Lokakarya | Foto: Rocky Arthur Tahapary

Penulis: YN Labas

Foto oleh: Rocky Arthur Tahapary, Eluma Production House

Explore More