Cerita
Indonesia
Kaum Muda
Perempuan
Lokakarya Inovasi Iklim KINETIK NEX Makassar: Dari ide Cemerlang menjadi Peluang


Makassar dinobatkan sebagai salah satu kota dengan suhu tertinggi di dunia pada Juni 2024 oleh laporan “People Exposed to Climate Change: March–May 2024”, dengan kenaikan suhu rata-rata hingga 1,2 derajat selama 92 hari berturut-turut. Namun, di tengah suhu kota yang kian menyengat, semangat anak muda Makassar untuk mencari solusi bagi perubahan iklim justru semakin membara. Salah satu buktinya terlihat lewat Lokakarya Inovasi Iklim KINETIK NEX, yang sukses terlaksana pada 16 Oktober 2025.

Setelah perdana digelar di Kupang pada akhir September 2025, Lokakarya Inovasi Iklim KINETIK NEX kembali hadir di Makassar sebagai ruang kolaborasi lintas sektor. Lokakarya ini mempertemukan kaum muda, komunitas, pemerintah daerah, pelaku usaha, lembaga keuangan, dan organisasi masyarakat sipil untuk merumuskan ide bisnis yang selaras dengan potensi lokal dan tantangan iklim. Melalui diskusi dan berbagi pengalaman langsung dari para pelaku usaha, kegiatan ini menjadi langkah nyata memperkuat ekosistem inovasi berkelanjutan di wilayah yang paling terdampak perubahan iklim.

Salah satu pembicara, Azizah Fauziah Misbahuddin, Managing Director Econella, berbagi kisah bagaimana keresahan di sektor pertanian bisa menjadi awal dari sebuah inovasi.

“Econella bermula dari kisah seorang petani di Kabupaten Pinrang namanya Pasha,” ujar Azizah. “Pada saat itu, Pasha mengeluhkan biaya BBM-nya meningkat hingga 50%.”

Kenaikan biaya tersebut, lanjutnya, membuat produktivitas petani menurun hingga lima kali lipat. Dari situ, Econella menyalurkan empati menjadi aksi nyata. Penelitian yang mereka kembangkan sejak 2022 mengubah limbah daun cengkeh dan sereh wangi rijek menjadi formulasi bioaditif ramah lingkungan yang dapat menggantikan bahan bakar fosil. Econella pun mengambangkan bisnis berupa bahan bakar alternatif dengan salah satu target pasar utama para petani.

Dalam mengembangkan Econella, Azizah juga menjabarkan 4 hal penting terkait proses menemukan bisnis inovatif yang dapat bersaing di tengah perubahan iklim:

  • Problem-Based Thinking atau memulai dengan empati terhadap masalah yang dirasakan masyarakat sehingga dapat menemukan solusi nyata yang relevan dengan kebutuhan dan tantangan para pengguna.
  • Design Thinking yang secara berurutan mengambangkan empati menjadi pendefinisian, ideasi, penciptaan prototype, dan melakukan uji coba yang dapat menyempurnakan ide bisnis secara kreatif agar berorientasi pada pengguna.
  • Passion–Skill Matrix yakni titik temu antara passion dan kemampuan yang dikuasai sebagai landasan  motivasi dan kompetensi yang berkelanjutan dalam membangun bisnis.
  • The Adjacent Possible Concept atau menciptakan inovasi dengan menyempurnakan yang sudah ada, menambah nilai baru, atau menggabungkan dua hal berbeda menjadi satu solusi yang unik dan bernilai tambah.

Kepekaan terhadap perubahan iklim juga menjadi perhatian Abraham G. Girsang, pelaku industri kopi di Sulawesi, yang membagikan bagaimana perubahan cuaca memengaruhi hasil panen.

“Kopi itu sangat sensitif,” ujarnya. “Ketika ia mau berbunga, ia butuh sinar kering. Saat berbunga, tidak boleh hujan. Begitu muncul buahnya, juga tidak boleh hujan. Jadi, kopi sangat bergantung pada alam. Sekarang pola hujan makin tidak menentu, dan itu sangat berdampak pada pertumbuhan serta produksi kopi.”
Menurutnya, produksi kopi di Indonesia pada 2025 hanya mencapai sekitar 10% dari produksi tahun sebelumnya. Di tengah permintaan kopi yang justru terus meningkat, kondisi ini bahkan mendorong sebagian petani beralih ke jenis pertanian lain sehingga penurunan tajam tersebut diperkirakan akan terus berlanjut pada tahun mendatang.

Pengalaman Azizah dan Abraham menjadi pemantik bagi para peserta untuk melihat perubahan iklim tidak hanya sebagai tantangan, tapi juga sumber peluang. Dalam sesi berkelompok, peserta menerapkan design thinking  untuk mengidentifikasi masalah dan mengembangkan ide bisnis berbasis solusi iklim. Dari pengolahan ampas kopi menjadi sumber energi alternatif hingga sistem pengelolaan sampah berkelanjutan, berbagai ide lahir dari kolaborasi lintas latar belakang yang mewakili semangat bahwa perubahan bisa dimulai dari sekitar.

Selain ide-ide baru, hadir pula dukungan dari berbagai pihak yang memperkuat ekosistem inovasi di Makassar. Perwakilan dari sektor perbankan, seperti Bank Sulselbar, menyampaikan komitmen untuk membuka akses pembiayaan bagi ide-ide bisnis anak muda. Pemerintah daerah pun menunjukkan keseriusannya melalui keberadaan Inkubator UMKM Diskop Makassar, yang siap mendampingi pelaku usaha kecil dan menengah agar terus tumbuh di tengah perubahan ekonomi dan iklim.

Di tengah perubahan iklim yang kian terasa, Lokakarya Inovasi Iklim KINETIK NEX di Makassar kembali membuktikan bahwa peluang untuk tumbuh dan berkolaborasi selalu terbuka bagi siapa pun yang berani mencari solusi.

Sampai jumpa di Lokakarya Inovasi Iklim berikutnya!

 

Penulis: Shilfina Putri Widatama

Foto oleh: Shilfina Putri Widatama dan Fawwaz

 

 

Explore More